Merawat Asa Energi Dari LapanganMigas Matang,Inovasi PHR Zona 4 Di Sumur GNK-115.

oleh
oleh

Inovasi batch drilling yang diterapkan PHR Zona 4 di Struktur Gunung Kemala kembali menuai hasil positif setelah keberhasilan pengembangan Sumur GNK-115, menambah sumbangsih untuk ketahanan energi nasional.

Sriwijaya Nusanatara Com ( MSN ) Prabumulih.Mengelola lapangan minyak dan gas bumi (migas) yang telah memasuki fase matang membutuhkan lebih dari sekadar pengeboran. Ketika tantangan produksi semakin kompleks, ketepatan strategi, efisiensi biaya, dan keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pengembangan sumber daya energi.

Di Struktur Gunung Kemala, wilayah kerja Pertamina EP (PEP) Field Prabumulih, Sumatera Selatan, upaya tersebut diwujudkan melalui pengembangan Sumur GNK-115. PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 menerapkan metode batch drilling untuk mengoptimalkan pelaksanaan pengeboran dan berhasil menyelesaikan pekerjaan dalam 55 hari, lebih cepat 16 hari dibandingkan target awal selama 71 hari.
Capaian itu tidak berhenti pada efisiensi waktu. Realisasi biaya proyek tercatat sebesar 76,25 persen dari Approved for Expenditure (AFE), atau 23,75 persen lebih rendah dibandingkan anggaran yang disetujui. Kebutuhan lahan juga berhasil ditekan dari 10 hektare menjadi 8 hektare.

Sementara itu, hasil pengujian aliran awal (initial flow test) pada 5 Oktober 2026 mencatat potensi minyak sebesar 2.423,29 barel per hari (barrels of oil per day/BOPD) dan gas sebesar 1,95 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).
Rangkaian pencapaian tersebut memperlihatkan bagaimana inovasi operasional dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengoptimalkan pengembangan lapangan migas matang. Di tengah kebutuhan menjaga produktivitas, setiap keputusan harus tetap mempertimbangkan efektivitas penggunaan sumber daya, keandalan operasi, dan keselamatan pekerja.
Menata Strategi Pengeboran, Memangkas Waktu Operasi
Dalam industri hulu migas, pengeboran melibatkan serangkaian pekerjaan teknis yang saling berkaitan, mulai dari persiapan peralatan dan personel hingga pengendalian risiko di lapangan. Kompleksitas tersebut menuntut perencanaan terintegrasi agar setiap tahapan dapat diselesaikan secara efektif.

Pada lapangan yang telah memasuki fase matang, optimalisasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis pengeboran. Pengaturan urutan pekerjaan, pemanfaatan peralatan, dan koordinasi antartim turut menentukan efektivitas pelaksanaan.

PHR Zona 4 menerapkan metode batch drilling, yakni pendekatan pengeboran sejumlah sumur yang berdekatan dengan mengelompokkan pekerjaan berdasarkan tahapan tertentu. Dengan pola kerja terencana, aktivitas dapat diatur secara berurutan untuk meningkatkan efisiensi perpindahan peralatan serta mengurangi kebutuhan pembongkaran dan pemasangan ulang rig sesuai rancangan operasi.
Pada pengembangan Sumur GNK-115, strategi tersebut didukung pola rig 2-1-2 selama fase pengeboran dan skema 5-4-3-2-1 pada fase komplesi pipa atau reeling.
Pola 2-1-2 mengatur penggunaan rig berdasarkan kebutuhan pada setiap tahapan pekerjaan. Dua rig digunakan pada fase awal, kemudian satu rig dialokasikan pada tahap tengah yang membutuhkan pengendalian teknis lebih cermat. Pada tahap akhir, dua rig kembali digunakan untuk mendukung penyelesaian pekerjaan sesuai rencana operasi.
Adapun skema 5-4-3-2-1 diterapkan dalam pengaturan pekerjaan komplesi pipa. Pengelompokan aktivitas tersebut dirancang untuk mendukung koordinasi personel dan meningkatkan efektivitas pemanfaatan sumber daya di lokasi pengeboran.
Kombinasi strategi itu berkontribusi terhadap penyelesaian pekerjaan dalam 55 hari, atau sekitar 22,5 persen lebih cepat dibandingkan target awal. Durasi yang lebih singkat membuka peluang optimalisasi penggunaan rig dan sumber daya pendukung, sekaligus membantu mengendalikan biaya operasional.
General Manager PHR Zona 4, Heru Irianto, menyebut pencapaian tersebut sebagai hasil komitmen bersama seluruh pekerja dalam menghadirkan inovasi untuk mendukung ketahanan energi nasional.

“Seluruh insan PHR Zona 4 terus berinovasi dalam mendukung ketahanan energi nasional. Pencapaian di Sumur GNK-115 menjadi pemacu semangat kami untuk tak pernah berhenti mencari terobosan-terobosan baru yang andal dan berkelanjutan,” ujar Heru, Kamis (15/10/2026).
Baginya, inovasi operasional merupakan bagian dari upaya meningkatkan efektivitas kerja sekaligus memperkuat pengelolaan sumber daya migas secara berkelanjutan.
Efisiensi Biaya Berjalan Seiring Optimalisasi Lahan
Keberhasilan proyek pengeboran juga ditentukan oleh kemampuan mengelola anggaran dan fasilitas secara tepat. Dalam pengembangan Sumur GNK-115, realisasi biaya mencapai 76,25 persen dari AFE, sehingga pengeluaran tercatat 23,75 persen lebih rendah dibandingkan anggaran yang disetujui.
Efisiensi tersebut didukung oleh penyesuaian sejumlah pekerjaan teknis. Salah satunya melalui pengurangan jumlah titik pencatatan data sumur menggunakan metode open hole logging, dari rencana awal 50 titik menjadi 31 titik.
Selain itu, pekerjaan stimulasi kimia atau acidizing tidak dilaksanakan. Penyesuaian ini merupakan bagian dari pengelolaan pekerjaan berdasarkan kebutuhan operasional sumur.

Optimalisasi juga dilakukan terhadap kebutuhan lahan. Area kerja yang semula direncanakan seluas 10 hektare berhasil dikurangi menjadi 8 hektare, atau menyusut 20 persen dari rencana awal.
Pengaturan tersebut menunjukkan pentingnya perencanaan tata letak dan penempatan fasilitas dalam mendukung kegiatan pengeboran. Dengan pemanfaatan area yang lebih terukur, kebutuhan ruang operasional dapat disesuaikan dengan rancangan pekerjaan.
Namun, efisiensi tetap harus didasarkan pada pertimbangan teknis yang memadai. Penyesuaian jumlah titik pengambilan data maupun kebutuhan stimulasi perlu mengacu pada evaluasi teknis dan persyaratan keselamatan yang berlaku.
Dengan demikian, penghematan tidak sekadar berorientasi pada pengurangan pengeluaran, tetapi juga pada ketepatan alokasi sumber daya sesuai kebutuhan pengembangan sumur.
Hasil Uji Alir Ungkap Potensi Hidrokarbon
Di balik keberhasilan menekan waktu dan biaya, hasil pengujian aliran awal Sumur GNK-115 menjadi salah satu aspek penting dalam mengevaluasi prospek pengembangan Struktur Gunung Kemala.
Pengujian pada 5 Oktober 2026 mencatat potensi minyak sebesar 2.423,29 BOPD dan gas sebesar 1,95 MMSCFD. Angka tersebut memberikan gambaran awal mengenai kemampuan sumur menghasilkan hidrokarbon dalam kondisi pengujian.
Dalam pengelolaan lapangan migas, initial flow test menjadi salah satu sumber data untuk mengevaluasi karakteristik sumur dan menentukan langkah pengembangan berikutnya. Hasilnya perlu dikaji bersama informasi bawah permukaan, karakteristik reservoir, serta pemantauan kinerja produksi.
Karena itu, hasil pengujian awal tidak serta-merta mencerminkan tingkat produksi yang akan bertahan dalam jangka panjang. Keberlanjutan produksi tetap bergantung pada kondisi reservoir, karakteristik aliran, dan hasil evaluasi teknis lanjutan.
Meski demikian, data tersebut memberikan informasi penting bagi PHR Zona 4 dalam menilai potensi sumur dan merumuskan strategi pengembangan berikutnya.
Pengalaman GNK-115 menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan sumur tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi hidrokarbon. Ketepatan perencanaan, efektivitas pelaksanaan, dan pengelolaan risiko turut berperan dalam mendukung keandalan operasi.
Menjaga Produktivitas Tanpa Mengabaikan Keselamatan
Di tengah tuntutan percepatan pekerjaan dan pengendalian biaya, keselamatan pekerja tetap menjadi prinsip yang tidak dapat dikompromikan.
Selama rangkaian kegiatan pengembangan Sumur GNK-115, PHR Zona 4 mencatat 57.288 jam kerja selamat (safe man-hours) tanpa insiden atau kecelakaan kerja (zero accident).

Dalam industri hulu migas, capaian produktivitas harus berjalan seiring dengan penerapan standar kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan atau Health, Safety, Security, and Environment (HSSE).
Setiap tahapan pekerjaan memerlukan kepatuhan terhadap prosedur, identifikasi potensi bahaya, pengendalian risiko, dan koordinasi antarpersonel. Konsistensi dalam menerapkan prinsip tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kegiatan berlangsung sesuai standar yang ditetapkan.
Percepatan waktu dan penghematan biaya hanya memberikan manfaat optimal apabila dicapai melalui operasi yang aman. Oleh karena itu, keselamatan bukan sekadar pelengkap target produksi, melainkan bagian integral dari seluruh rangkaian pekerjaan, mulai dari perencanaan hingga penyelesaian.
Pencatatan 57.288 jam kerja selamat pada proyek GNK-115 melengkapi capaian operasional sekaligus menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara produktivitas dan perlindungan pekerja.
Menjadi Bekal Pengembangan Lapangan Migas Matang
Bagi PHR Zona 4, pengalaman dari Sumur GNK-115 menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat strategi pengelolaan dan pengurasan hidrokarbon di lapangan yang telah memasuki fase matang.
Senior Manager Subsurface and Development and Planning (SSDP) PHR Zona 4, Reza Nur Ardianto, menyampaikan bahwa pencapaian tersebut akan menjadi catatan penting dalam menyusun strategi operasi selanjutnya.
“Kami akan menjadikan pencapaian ini sebagai catatan dalam upaya mengoptimalkan pengurasan minyak dan gas di lapangan mature Zona 4 dan terus melakukan inovasi dalam mendukung ketahanan energi,” kata Reza.

Pengembangan lapangan matang memerlukan pendekatan yang mempertimbangkan kondisi reservoir, karakteristik sumur, serta efektivitas metode operasi. Setiap keputusan perlu didukung evaluasi teknis agar potensi sumber daya dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dalam konteks tersebut, GNK-115 memberikan pembelajaran mengenai pentingnya mengintegrasikan perencanaan pengeboran, pengendalian anggaran, optimalisasi lahan, dan penerapan standar keselamatan dalam satu rangkaian pekerjaan.

Metode batch drilling juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan sumur berikutnya. Penerapannya perlu disesuaikan dengan karakteristik reservoir, kondisi lapangan, dan kebutuhan teknis masing-masing sumur agar manfaat operasionalnya dapat diperoleh secara optimal.
Dengan demikian, keberhasilan sebuah proyek tidak berhenti pada pencapaian target waktu dan anggaran. Pengalaman di lapangan perlu menjadi dasar perbaikan metode kerja agar efektivitas pengembangan dapat terus ditingkatkan.

Merawat Potensi, Memperkuat Ketahanan Energi
Pengembangan Sumur GNK-115 memperlihatkan bahwa upaya menjaga ketahanan energi tidak hanya bergantung pada penemuan sumber daya baru, tetapi juga pada kemampuan mengoptimalkan potensi hidrokarbon yang telah tersedia.
Melalui penerapan batch drilling, PHR Zona 4 menyelesaikan pekerjaan 22,5 persen lebih cepat dibandingkan target awal. Proyek tersebut juga mencatat penghematan biaya 23,75 persen, pengurangan kebutuhan lahan 20 persen, serta 57.288 jam kerja selamat tanpa kecelakaan.
Sementara itu, hasil initial flow test berupa potensi minyak sebesar 2.423,29 BOPD dan gas 1,95 MMSCFD menjadi salah satu dasar evaluasi untuk menilai prospek pengembangan Sumur GNK-115 di Struktur Gunung Kemala.
Rangkaian pencapaian tersebut menunjukkan bahwa inovasi metode kerja, pengelolaan sumber daya, dan penerapan budaya keselamatan dapat saling mendukung dalam meningkatkan efektivitas operasi hulu migas.

Di tengah tantangan pengelolaan lapangan matang, keberhasilan tidak cukup diukur dari seberapa cepat pengeboran diselesaikan atau seberapa besar potensi produksi yang tercatat. Ketepatan strategi, kualitas pelaksanaan, dan konsistensi menjaga keselamatan turut menentukan keberlanjutan hasil pengembangan.

Pengalaman GNK-115 menjadi bagian dari upaya PHR Zona 4 untuk terus mengoptimalkan potensi hidrokarbon di wilayah kerjanya. Melalui inovasi yang terukur dan evaluasi teknis yang konsisten, perusahaan berupaya meningkatkan efektivitas operasi sekaligus memperkuat kontribusi sektor hulu migas terhadap ketahanan energi nasional.